Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2009

Masjid Cheng Ho

Eksistensi masjid ini lahir dari inisiatif tokoh-tokoh PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Masjid Cheng Ho dibangun di komplek PITI, JL. Gading Surabaya. Layaknya bangunan khas Tiongkok, maka warna merah dan kuning emas mendominasi bangunan masjid.

Namun demikian, masjid ini terbuka bagi semua kegiatan masyarakat muslim. Bentuk masjid yang jadi acuan adalah masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 masehi. Sedang nama masjid, Masjid Muhammad Cheng Ho, terilhami dari nama

Cheng Ho (panglima perang) yang kemudian menjadi penyebar agama Islam yang dakwahnya sampai ke Indonesia.
(dikutip dari Pemkot Surabaya)

Masjid Kemayoran

Di Surabaya fasilitas peribadatan sebelum 1905 menunjukkan bahwa penduduk Surabaya sudah membentuk suatu pengelompokan etnis. Hal ini nampak jelas pada letak tempat-tempat peribadatan yang ada di Surabaya.

Salah satunya adalah Masjid Kemayoran yang terletak di Jalan Kemayoran ini berada dikawasan masyarakat yang mayoritas warga Arab. Dimana hal ini disebabkan dekatnya jalan Kemayoran dengan pelabuhan tanjung perak sehingga banyak sekali pendatang yang ingin berdagang ataupun ingin mensyi'arkan agama Islam di tanah Jawa yang memerlukan fasilitas untuk beribadah.

Masjid Kemayoran pada abad ke 19 merupakan bagian dari komplek alun-alun (masjid letaknya di sebelah barat alun-alun). Alun-alun kota Surabaya pada saat itu di sekitar jalan Pasar Besar (dulu bernama Aloen-aloen Straat).

Masjid Kemayoran sampai dengan tahun 1905 merupakan Masjid terbesar pertama di Surabaya. Masjid ini dibangun pada tahun 1844-1848 dengan gaya arsitektur Jawa kuno, yang memiliki bangunan utama sebagai tempat untuk beribadah dan dua menara yang berada di sisi kiri dan kanan bangunan utama dengan tinggi menara sekitar 70 kaki. Menara tersebut biasa digunakan untuk meletakkan pengeras suara ataupun bedug untuk menunjukkan waktu sholat telah tiba. Perancang dan ide pembangunan Masjid Kemayoran adalah warga dari Belanda JWB. Wardenaar (1786-1869).

Pada saat ini Masjid Kemayoran hanya memiliki satu menara karena satu menara yang lain runtuh akibat disambar petir. Dan Masjid Kemayoran yang saat ini berdiri sudah merupakan bangunan baru yang dibangun diatas reruntuhan Masjid Kemayoran yang lama. Demi menjaga kelestarian dan sejarah gaya bangunan Masjid Kemayoran yang baru tidak begitu jauh berbeda dengan gaya bangun lama.

(tulisan dikutip dari Pemkot Surabaya)

Masjid Agung Ampel

Bagi peziarah kawasan Sunan Ampel sangat dikenal hingga pelosok nusantara. Paling menyolok adalah keberadaan Kampung Arab. Sesuai namanya, kawasan ini sebagian besar ditempati oleh keturunan Arab Yaman yang sudah menetap ratusan tahun.

Ampel memang selalu sibuk, bahkan sejak ratusan tahun lalu, oleh para saudagar Arab dan Cina yang datang untuk berdagang.

Masjid Ampel sendiri didirikan pada tahun 1421 oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel dengan dibantu kedua sahabat karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji ( Mbah Bolong ), dan para santrinya. Di atas sebidang tanah di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel ) Kecamatan Semampir sekitar 2 kilometer ke arah Timur Jembatan Merah

Sayangnya, ihwal tentang kapan selesainya pembangunan Masjid Ampel ini, tidak ada satupun sumber yang menyebutkannya.

Masjid dan makam Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa agar orang- yang ingin melakukan sholat di masjid dan berziarah dapat merasa nyaman dan tenang. Hal ini tampak jelas dengan dibangunnya lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam.

Dari arah selatan tepatnya di jalan Sasak terdapat Gapuro bernama Gapuro Munggah, suasana perkampungan yang katanya mirip dengan pasar Seng di Masjidil Haram Makkah. Menggambarkan bahwa seorang muslim wajib menunaikan rukun islam yang kelima jika mampu.

Setelah melewati lorong perkampungan yang menjadi kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan mulai busana muslim, parfum, kurma dan berbagai asesoris, akan terlihat sebuah Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel.

Setelah melewati Gapuro Poso, baru terlihat bangunan utama, yaitu Masjid

Masjid sudah empat kali dipugar, tetapi keaslian bangunan ini yang ditandai dengan ke-16 tiang utamanya ( panjang 17 meter tanpa sambungan, diameter 60 centimeter ) dan 48 pintu itu tetap dipelihara dan dirawat, agar jangan sampai turut direnovasi. Karena selain merupakan peninggalan sejarah, tiang tersebut juga memiliki makna. Tujuh belas ( panjang tiang ) menunjukan jumlah raka'at shalat dalam sehari yang merupakan tiang agama Islam. Hingga kini tiang penyangga ini masih kokoh, padahal umurnya sudah lebih dari 600 tahun.

Menara setinggi lima puluh meter juga menjadi ciri khas masjid ini. Dahulu memang belum ada alat pengeras suara, sehingga semakin tinggi menara semakin baik, agar suara azan bisa terdengar. Kubah berbentuk pendopo Jawa adalah perlambang kejayaan Majapahit, yang saat itu juga berperan menyebarkan agama Islam bersama Sunan Ampel.

Keluar dari masjid akan terlihat Gapuro lagi yang bernama Gapuro Ngamal. Disini orang-orang dapat bershodaqoh sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan. Shodaqoh tersebut juga digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan Masjid dan Makam, menggambarkan rukun Islam tentang wajib zakat.

Tak jauh dari tempat itu akan terlihat Gapuro Madep letaknya persis di sebelah barat Masjid Induk. Disebelah kanan terdapat makam Mbah Shanhaji ( Mbah Bolong ) yang menentukan arah kiblat Masjid Agung Sunan Ampel. Menggambarkan bahwa pelaksanaan sholat menghadap kiblat

setelah itu ada Gapuro Paneksen untuk masuk ke kompleks makam. Ini menggambarkan sebagai syahadat " Bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah "

Kompleks makam dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.

Di tempat ini juga terdapat sumur bersejarah yang kini sudah ditutup dengan besi. Banyak yang meyakini air dari sumur ini memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah. Banyak masyarakat yang minum dan mengambil untuk kemudian dibawa pulang.

(dikutip dari mupeng.com dan indosiar.com)

Rabu, 27 Mei 2009

Masjid Al-Akbar

Merupakan masjid terbesar di Surabaya dengan gaya arsitektur yang unik dan modern, berada di selatan Surabaya wilayah Pagesangan dekat dengan jalan tol Surabaya-Gempol.

Masjid Al-Akbar Surabaya berdiri diatas tanah seluas 11,2 hektar dengan luas bangunan 28.509 meter persegi. Kesan unik dari bangunan ini terletak pada desain kubah masjid yang unik seperti struktur daun dengan kombinasi warna hijau dan biru yang memberikan kesan sejuk dan segar. Memiliki sebuah bangunan utama dan dua bangunan lain yang dapat menembus langsung ke bangunan utama. Dibangun pula sebuah menara dengan dilengkapai lift didalamnya yang dibuka untuk umum. Dari menara ini dapat dinikmati pemandangan kota Surabaya yang sangat indah terutama dimalam hari karena banyaknya lampu kota dari gedung-gedung yang ada di Surabaya. Masjid ini di resmikan pada tanggal 10 Nopember 2000 oleh Presiden RI yang saat itu di jabat oleh Bapak Abdul Rachman Wachid.

Disekitar masjid ramai sekali dikunjungi oleh warga Surabaya dan para pendatang khususnya di hari-hari libur baik munggu atau libur nasional. Banyak warga yang melakukan kegiatan olah raga disekitar lingkungan masjid Al Akbar ini.

Di seputar Masjid Al Akbar juga ada pasar subuh yang menjual aneka kebutuhan pokok, makanan, minuman, alat-alat rumah tangga, mainan anak-anak, kelontong, baju dan lain-lainnya.

(dikutip dari Pemkot Surabaya)